04 Sep

Tomat Premium, Petani pun Untung

TEMPO.CO, Jakarta - Kebanyakan petani tomat setidaknya punya dua masalah utama. Pertama adalah, sulit mendapatkan kepastian dalam menjual hasil, terutama saat musim panen. Biasanya, setiap musim panen pasokan tomat melimpah, akibatnya harga anjlok. Atau, bahkan petani tak bisa menjual panennya karena tak ada lagi pihak yang mau membeli. Lalu, masalah kedua adalah tanaman tomat mudah sekali layu dan mati saat musim hujan. Keduanya menyebabkan petani merugi.

Tapi dua masalah itu tak lagi menjadi momok lagi bagi para petani, khususnya petani tomat di Bali. Kabar gembira itu muncul karena kehadiran Fresh Grow Incorporated. Produsen dan pemasok tomat premium untuk segmen hotel berbintang, restoran, dan premium supermarket, ini datang mengajak petani tomat di Bali untuk bekerjasama, sekaligus memberi solusi atas permasalahan utama mereka tadi. “Kami berusaha mengatasi permasalahan petani dengan memberi kepastian pembelian hasil panen, dengan harga yang tetap,” ujar Sahad, Head of Grower PT Fresh Grow Incorporated.

Ada banyak memang keuntungan yang diperoleh para petani ketika bekerjasama dengan Fresh Grow. Pertama, itu tadi. Fresh Grow memastikan pembelian hasil panen dengan harga yang tetap, tak peduli pembelian dilakukan saat bukan musim panen, maupun saat musim panen. Yang kedua, petani langsung mendapatkan bibit tomat jenis istimewa, dan lebih kuat ketimbang tomat biasa sehingga kemungkinan gagal panen lebih kecil. Tanaman pun lebih kuat, tahan hama, penyakit dan jamur, serta tidak layu di musim hujan. Umur tanaman pun bisa lebih panjang.

Artinya, petani mendapatkannya bibit yang sudah jadi, bukan dalam bentuk benih melainkan sudah dalam bentuk tanaman hibrida ini. Yang juga istimewa, jenis tomat yang disambungkan adalah varian tomat kelas premium. Yaitu, jenis tomat beefsteak, tomat cherry dan tomat roma. Tomat berkelas ini dipasarkan dengan merk King Tomato, dan dipasok ke sejumlah hotel berbintang, restoran dan supermarket di Bali dan Jakarta.

Kepada mitra petaninya, Fresh Grow juga memberikan pupuk dan pestisida, pelatihan teknik bercocok tanam tomat yang baik, pengawasan, sampai konsultasi. Semua itu, menurut Sahad, merupakan fasilitas dari perusahaan, bukan berupa pinjaman. Petani hanya perlu menyediakan tenaganya, air dan bambu penyangga tanaman tomat saja. “Nilainya bervariasi, tergantung jumlah bibit tomat yang mereka ambil,” jelas Sahad sambil menambahkan bahwa setiap petani biasanya mengambil antara seribu sampai lima ribu bibit.

Pada tahap awal ini, ada 18 petani yang bekerjasama dengan Fresh Grow. Jumlahnya memang belum banyak, karena penanaman tomat harus dilakukan secara bertahap dan hasil panen bisa sinambung setiap minggu.


Saat ini, hasil panennya sekitar 2-3 ton tomat segar setiap minggu. Oktober nanti akan ditambah empat hektar lagi sehingga tahun depan ditargetkan panen bisa mencapai 40-50 ton per minggu. Diharapkan akan lebih banyak lagi petani tomat yang tidak lagi mengalami kesulitan mencari kepastian penjualan hasil panen tomatnya.

Source: Tempo